Padang - Ketersediaan rumah sakit di Sumatera Barat (Sumbar) dinilai belum memadai untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat yang jumlahnya mendekati 5,7 juta jiwa. Persoalan ini bukan hanya soal...
Padang - Ketersediaan rumah sakit di Sumatera Barat (Sumbar) dinilai belum memadai untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat yang jumlahnya mendekati 5,7 juta jiwa. Persoalan ini bukan hanya soal jumlah rumah sakit, tetapi juga ketimpangan distribusi, keterbatasan fasilitas rujukan, serta minimnya kapasitas tempat tidur dan tenaga medis spesialis. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Kesehatan menunjukkan, hingga beberapa tahun terakhir Sumbar memiliki sekitar 70-75 rumah sakit, terdiri dari rumah sakit umum dan khusus, baik milik pemerintah maupun swasta.
Namun sebagian besar rumah sakit dengan layanan rujukan lengkap masih terkonsentrasi di Kota Padang dan sekitarnya, sementara kabupaten di wilayah pinggiran dan terpencil masih bergantung pada rumah sakit tipe kecil.
Dari sisi kapasitas, persoalan menjadi lebih nyata. Standar World Health Organization (WHO) merekomendasikan rasio 1 tempat tidur rumah sakit per 1.000 penduduk. Dengan jumlah penduduk Sumbar sekitar 5,7 juta jiwa, idealnya tersedia sedikitnya 5.700 tempat tidur rumah sakit.
Namun berdasarkan dokumen perencanaan daerah dan proyeksi pembangunan kesehatan, kapasitas tempat tidur rumah sakit di Sumbar masih berada di bawah angka ideal tersebut, sehingga tekanan terhadap rumah sakit rujukan terus meningkat, terutama saat lonjakan pasien dan kondisi darurat.
Ketimpangan layanan juga terlihat dari keterbatasan rumah sakit spesialis. Layanan penting seperti jantung, kanker, bedah saraf, dan trauma mayor masih sangat terbatas jumlahnya. Akibatnya, tidak sedikit pasien dari kabupaten harus dirujuk ke Padang atau bahkan ke provinsi lain, yang berdampak pada biaya tinggi dan risiko keterlambatan penanganan medis.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan mengingat Sumatera Barat merupakan wilayah rawan bencana, seperti gempa bumi, banjir, dan longsor. Dalam situasi darurat, keterbatasan rumah sakit dan tempat tidur berpotensi memperbesar jumlah korban dan memperlambat penanganan medis. Pengamat kebijakan publik menilai, Sumbar masih membutuhkan penambahan rumah sakit baru atau peningkatan kelas rumah sakit yang sudah ada, terutama di daerah seperti Kepulauan Mentawai, Solok Selatan, Pasaman Barat, Dharmasraya, dan wilayah perbatasan lainnya.
Selain itu, peningkatan kapasitas tempat tidur, alat kesehatan, serta distribusi dokter spesialis dinilai mendesak. "Masalahnya bukan sekadar ada atau tidak ada rumah sakit, tapi apakah masyarakat bisa mengakses layanan kesehatan secara cepat, layak, dan setara.
Data menunjukkan Sumbar belum sampai ke titik itu," ujar seorang pemerhati kesehatan di Padang. Hingga kini, pemerintah daerah belum mempublikasikan secara rinci angka kebutuhan ideal rumah sakit dan tempat tidur rumah sakit di Sumbar. Namun berbagai indikator menunjukkan, penguatan sistem layanan kesehatan dan penambahan fasilitas bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjamin hak dasar masyarakat atas pelayanan kesehatan yang layak.

