Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

Ketegasan Jenderal Sutanto dan Standar Kepemimpinan yang Dirindukan

Ketegasan Jenderal Sutanto dan Standar Kepemimpinan yang Dirindukan
CaranoNews

Ketegasan Jenderal Sutanto dan Standar Kepemimpinan yang Dirindukan

Carano News - Jakarta

Di tengah kompleksitas tantangan penegakan hukum, nama Sutanto kembali diperbincangkan publik. Mantan Kapolri periode 2005-2008 itu dikenang bukan semata karena jabatan, melainkan gaya kepemimpinannya yang lugas, tegas, dan minim kompromi terhadap pelanggaran hukum. Kalimatnya yang terkenal, "Tertibkan, atau Anda saya copot!", menjadi simbol pendekatan disiplin internal yang ia terapkan.

Bagi Sutanto, pembenahan ke dalam institusi adalah fondasi utama sebelum menuntut ketaatan hukum dari masyarakat. Berani Sentuh Wilayah "Sulit" Saat menjabat Kapolda Sumatera Utara, Sutanto dikenal berani memberantas praktik perjudian yang selama bertahun-tahun dianggap sulit disentuh. Pendekatannya sederhana namun tegas: tidak ada toleransi, tidak ada pembiaran, dan tidak ada perlindungan bagi oknum.

Pesan yang dibangun jelas-hukum tidak boleh kalah oleh jaringan informal atau kepentingan tersembunyi. Kapolri Era SBY Ketika dilantik sebagai Kapolri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2005, pola kepemimpinan yang sama diterapkan secara nasional. Program 100 hari pemberantasan judi menjadi simbol komitmen awalnya.

Penindakan dilakukan merata, dari kota besar hingga pelosok daerah. Efeknya terasa cepat. Publik menyaksikan keseriusan aparat dalam merespons keresahan sosial.

Tak hanya itu, perhatian juga diarahkan pada praktik mafia migas dan premanisme. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penegakan hukum tidak boleh selektif-baik kejahatan jalanan maupun kejahatan terorganisir harus ditindak tanpa pandang bulu. Keberhasilan Kontra-Terorisme Pada masa kepemimpinannya, operasi kontra-terorisme mencatat capaian penting, termasuk penindakan terhadap tokoh teroris Azahari Husin pada 2005.

Keberhasilan ini mengangkat reputasi profesionalisme kepolisian Indonesia di mata internasional. Warisan Nilai Namun lebih dari sekadar capaian operasional, warisan terbesar Sutanto adalah nilai integritas dan keberanian mengambil keputusan. Kepemimpinan, dalam praktiknya, bukan soal popularitas, tetapi konsistensi terhadap aturan.

Gaya tegas tentu tidak selalu nyaman. Tegas berarti ada evaluasi, bahkan pencopotan jabatan. Tetapi dari ketidaknyamanan itulah lahir disiplin dan kepercayaan publik.

Di era ketika masyarakat semakin kritis dan ekspektasi terhadap aparat penegak hukum semakin tinggi, standar kepemimpinan seperti yang pernah ditunjukkan Sutanto kembali menjadi rujukan. Integritas, keberanian, dan konsistensi dinilai tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman. Pada akhirnya, sosok Jenderal Sutanto mengingatkan bahwa hukum tidak hanya ditegakkan melalui regulasi tertulis, tetapi juga melalui karakter pemimpinnya.

Ketika karakter itu kuat, legitimasi dan kepercayaan publik pun ikut menguat. Carano News mencatat, kepemimpinan yang berpihak pada hukum selalu menemukan tempatnya dalam ingatan publik.