PADANG — Kota Padang tengah menghadapi penurunan jumlah kunjungan wisatawan. Kondisi ini membuat para pedagang kecil, khususnya di kawasan wisata pantai dan pusat keramaian kota, mulai dirundung...
PADANG — Kota Padang tengah menghadapi penurunan jumlah kunjungan wisatawan. Kondisi ini membuat para pedagang kecil, khususnya di kawasan wisata pantai dan pusat keramaian kota, mulai dirundung keresahan. Lapak-lapak yang biasanya ramai kini terlihat lengang, terutama di Pantai Padang, Pantai Air Manis, hingga kawasan Pasar Raya.
Sejumlah pedagang mengaku omzet mereka turun drastis dalam beberapa bulan terakhir. Jika pada akhir pekan biasanya mampu meraup ratusan ribu rupiah, kini pendapatan harian sering kali tak cukup untuk menutup biaya operasional. “Kadang dari pagi sampai sore, pembeli bisa dihitung jari,” keluh seorang pedagang minuman di kawasan Pantai Padang.
Para pelaku usaha menilai sepinya wisatawan dipicu oleh beberapa faktor. Mulai dari minimnya agenda event pariwisata berskala besar, kurangnya inovasi destinasi, hingga persoalan kebersihan dan penataan kawasan yang belum maksimal. Selain itu, daya tarik wisata Padang dinilai kalah bersaing dengan daerah lain di Sumatera Barat yang lebih agresif mempromosikan destinasi dan festival.
Situasi ini diperparah oleh kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Wisatawan lokal cenderung menahan pengeluaran, sementara kunjungan wisatawan luar daerah dan mancanegara masih terbatas. Akibatnya, sektor informal seperti pedagang kaki lima, penyewa payung pantai, hingga pelaku UMKM kuliner menjadi pihak paling terdampak.
Pedagang berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret. Mulai dari memperbanyak event wisata rutin, memperbaiki fasilitas umum, hingga promosi digital yang lebih masif. “Kalau ada kegiatan atau festival, kami ikut hidup. Kalau begini terus, kami bisa gulung tikar,” ujar pedagang lainnya dengan nada cemas.
Pengamat pariwisata menilai, Padang sebenarnya memiliki potensi besar—pantai, kuliner, dan budaya Minangkabau yang kuat. Namun tanpa strategi pengelolaan dan promosi yang konsisten, potensi tersebut sulit mendatangkan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat. Kini, para pedagang hanya bisa berharap roda pariwisata kembali berputar.
Bagi mereka, ramainya wisatawan bukan sekadar soal hiburan kota, melainkan soal dapur yang tetap mengepul dan masa depan usaha kecil yang bertahan. (Bud)

