Padang - Dunia usaha percetakan di Sumatera Barat (Sumbar) tengah berada dalam tekanan berat. Sejumlah pelaku usaha mengaku omzet mereka turun drastis dalam satu hingga dua tahun terakhir. Penurunan...
Padang - Dunia usaha percetakan di Sumatera Barat (Sumbar) tengah berada dalam tekanan berat. Sejumlah pelaku usaha mengaku omzet mereka turun drastis dalam satu hingga dua tahun terakhir. Penurunan ini bahkan mencapai 40 hingga 70 persen dibandingkan masa normal.
Pelaku usaha percetakan di Kota Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh menyebut minimnya kegiatan pemerintah, berkurangnya event, serta lesunya ekonomi masyarakat sebagai penyebab utama. "Dulu setiap bulan ada saja pesanan spanduk, baliho, buku kegiatan, sekarang nyaris sepi," ujar Roni (45), pemilik usaha percetakan skala menengah di Padang.
Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah turut memperparah kondisi. Pemotongan belanja publik berdampak langsung pada sektor percetakan yang selama ini bergantung pada pengadaan alat peraga sosialisasi, ATK, hingga dokumen kegiatan. Di sisi lain, pergeseran ke media digital membuat permintaan cetak semakin menyusut.
Ironisnya, pelaku usaha kecil menilai tidak ada kebijakan protektif dari pemerintah daerah untuk menyelamatkan sektor ini. Program pengadaan masih didominasi rekanan besar, sementara percetakan kecil dan rumahan tersisih. Jika situasi ini terus berlanjut tanpa intervensi serius, banyak usaha percetakan lokal dikhawatirkan gulung tikar.
Padahal sektor ini menyerap tenaga kerja cukup besar dan menjadi sandaran hidup ribuan keluarga di Sumbar. Pelaku usaha mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, mulai dari keberpihakan dalam pengadaan, mendorong event lokal, hingga pelatihan adaptasi usaha agar percetakan dapat bertahan di tengah perubahan zaman.

