Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

Identitas Tanpa Visual: Mengapa Sebagian Orang Menolak Menaruh Foto di Internet

Identitas Tanpa Visual: Mengapa Sebagian Orang Menolak Menaruh Foto di Internet
CaranoNews

Di era ketika wajah bisa muncul di mana saja-profil WhatsApp, Instagram, LinkedIn, bahkan Google Maps-orang yang sama sekali tidak memiliki foto di internet justru tampak seperti anomali. Mereka ada,...

Di era ketika wajah bisa muncul di mana saja-profil WhatsApp, Instagram, LinkedIn, bahkan Google Maps-orang yang sama sekali tidak memiliki foto di internet justru tampak seperti anomali. Mereka ada, berinteraksi, bekerja, dan berjejaring, tetapi nyaris tak meninggalkan jejak visual. Fenomena ini bukan kebetulan, dan jarang pula soal "tidak bisa teknologi".

Secara psikologis dan sosial, ada beberapa pola kepribadian yang sering muncul pada orang-orang seperti ini. Pertama, mereka cenderung sangat menjaga privasi. Bagi kelompok ini, foto bukan sekadar gambar, melainkan data.

Wajah dianggap identitas sensitif, sama berharganya dengan nomor KTP atau alamat rumah. Mereka memahami bahwa sekali foto beredar di internet, kendali nyaris hilang. Cara berpikirnya sederhana tapi tegas: apa yang tidak diunggah, tidak bisa disalahgunakan.

  • banyak dari mereka memiliki orientasi ke dalam (introvert reflektif). Bukan berarti anti-sosial, tetapi tidak merasa perlu validasi visual dari publik. Eksistensi tidak diukur dari "terlihat", melainkan dari fungsi dan kontribusi.

Mereka nyaman dikenal lewat pikiran, karya, atau sikap-bukan rupa. Ketiga, ada kecenderungan skeptis terhadap budaya pamer digital. Orang-orang ini sering melihat media sosial sebagai panggung performatif: tersenyum demi kamera, bukan demi kenyataan.

Menolak memajang foto adalah bentuk resistensi halus terhadap tekanan sosial untuk selalu tampak bahagia, sukses, dan menarik. Keempat, sebagian memiliki kesadaran risiko yang tinggi. Mereka paham soal pencurian identitas, deepfake, face recognition, hingga profiling berbasis AI.

Dalam perspektif ini, tidak mengunggah foto adalah langkah mitigasi risiko. Bukan paranoia-lebih tepatnya manajemen risiko versi personal. Menariknya, ada pula kelompok yang tidak punya foto di internet karena memisahkan identitas publik dan pribadi secara ketat.

Di dunia profesional, mereka aktif dan vokal. Di dunia personal, mereka nyaris tak terlihat. Ini umum pada orang-orang yang bekerja di bidang sensitif: teknologi, hukum, keamanan, atau bisnis strategis.

Namun perlu dicatat, tidak semua orang tanpa foto di internet adalah pribadi tertutup atau misterius. Sebagian hanya tidak melihat urgensinya. Hidup berjalan baik-baik saja tanpa harus menampilkan wajah ke ruang digital.

Tidak ada misi, tidak ada perlawanan-hanya preferensi. Dalam masyarakat yang semakin visual, ketiadaan foto sering disalahartikan sebagai keanehan, bahkan kecurigaan. Padahal, bisa jadi itu justru tanda kontrol diri yang kuat.

Di tengah kebisingan digital, memilih tidak tampil adalah keputusan sadar-dan itu sendiri adalah sebuah pernyataan kepribadian. Pada akhirnya, orang yang tidak memiliki foto di internet mengingatkan satu hal penting: eksistensi tidak selalu harus terlihat. Kadang, yang paling utuh justru yang paling sunyi secara digital.