PADANG — Pemandangan cafe yang penuh sesak oleh anak muda kini menjadi wajah sehari-hari Kota Padang dan sejumlah daerah di Sumatera Barat. Dari kawasan Purus, Pondok, Ulak Karang, hingga pusat kota,...
PADANG — Pemandangan cafe yang penuh sesak oleh anak muda kini menjadi wajah sehari-hari Kota Padang dan sejumlah daerah di Sumatera Barat. Dari kawasan Purus, Pondok, Ulak Karang, hingga pusat kota, coffee shop ramai sejak sore hingga larut malam. Namun di balik hiruk-pikuk itu, usaha mikro dan kecil justru berguguran satu per satu.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: benarkah ekonomi Sumatera Barat sedang tumbuh, atau hanya tampak ramai di permukaan? Ramai Pengunjung, Sepi Perputaran Uang Pantauan di lapangan menunjukkan mayoritas pengunjung cafe adalah mahasiswa dan pekerja muda. Mereka datang berkelompok, memesan satu minuman, lalu duduk berjam-jam memanfaatkan WiFi dan colokan listrik.
Aktivitas ini membuat cafe terlihat hidup, namun perputaran uang relatif kecil. Sementara itu, warung makan tradisional, pedagang kaki lima, dan usaha mikro rumahan justru kehilangan pelanggan tetap. “Cafe penuh, tapi warung kami makin sepi. Dulu ramai saat makan malam, sekarang orang lebih pilih nongkrong,” kata seorang pedagang di Padang Barat.
UMKM Dominan, Tapi Paling Rentan Secara struktur ekonomi, lebih dari 98 persen pelaku usaha di Sumatera Barat adalah usaha mikro dan kecil. Kelompok ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah sekaligus penyerap tenaga kerja terbesar. Namun sejak 2024 hingga 2025, pelaku UMKM mengeluhkan tekanan berat.
Biaya bahan baku naik, tarif listrik dan air meningkat, sewa tempat mahal, sementara daya beli masyarakat melemah. Di Kota Padang, pelaku usaha menyebut penurunan omzet berkisar 30 hingga 60 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banyak usaha bertahan bukan karena untung, melainkan karena takut kehilangan satu-satunya sumber penghasilan.
Ilusi Ekonomi Kreatif Ramainya cafe sering dipersepsikan sebagai bukti geliat ekonomi kreatif. Namun pengamat ekonomi menilai kondisi ini justru menciptakan ilusi pertumbuhan. Cafe ramai belum tentu ekonomi sehat.
Yang perlu dilihat adalah apakah uang benar-benar beredar dan menopang usaha kecil lain, atau hanya berhenti di ruang konsumsi tertentu. “Yang terlihat ramai itu konsumsi simbolik. Daya beli riil masyarakat bawah justru melemah,” ujar seorang pengamat ekonomi di Padang. Pergeseran pola belanja dari kebutuhan primer ke gaya hidup dinilai mempersempit ruang hidup UMKM tradisional.
Gaya Hidup Anak Muda dan Tekanan Sosial Media sosial ikut memperkuat tren nongkrong. Nongkrong di cafe bukan lagi soal minum kopi, melainkan simbol pergaulan dan eksistensi. Anak muda merasa perlu hadir di ruang-ruang itu agar tidak dianggap tertinggal.
Akibatnya, pengeluaran gaya hidup tetap berjalan meski kondisi keuangan terbatas. Di sisi lain, UMKM yang mengandalkan pembelian rutin harian kehilangan pasar. Pemerintah Dinilai Belum Hadir Pelaku UMKM menilai perhatian pemerintah daerah masih bersifat seremonial.
Program bantuan, pendampingan, dan akses modal dinilai belum menyentuh persoalan utama di lapangan. Banyak pelaku usaha kecil kesulitan mengakses pembiayaan murah, tertinggal dalam digitalisasi, dan tidak mampu bersaing dengan usaha modern yang lebih kuat modal dan promosi. Ancaman Sosial yang Mengintai Jika tren ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya ekonomi.
Lapangan kerja menyusut, pengangguran meningkat, dan kesenjangan sosial melebar. UMKM yang rontok berarti hilangnya sumber nafkah ribuan keluarga di Sumatera Barat. Cafe boleh ramai hari ini, tetapi ketika usaha kecil mati, siapa yang menyerap tenaga kerja besok? (Rajo)

