Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

Artis Minang Tempo Dulu, Karyanya Abadi Tembus Zaman

Artis Minang Tempo Dulu, Karyanya Abadi Tembus Zaman
CaranoNews

Padang - Minangkabau tidak hanya dikenal dengan adat dan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, tetapi juga melahirkan seniman besar yang karya-karyanya terus hidup hingga hari ini....

Padang - Minangkabau tidak hanya dikenal dengan adat dan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, tetapi juga melahirkan seniman besar yang karya-karyanya terus hidup hingga hari ini. Meski sebagian artis Minang tempo dulu telah wafat, jejak mereka tetap abadi dalam lagu, film, dan seni pertunjukan yang masih dinikmati lintas generasi. Salah satu nama besar adalah Elly Kasim, maestro lagu Minang yang dijuluki Ratu Pop Minang.

Lagu-lagu seperti Ayam Den Lapeh, Tak Tontong, dan Kampuang Nan Jauh di Mato tidak hanya menjadi identitas budaya Minangkabau, tetapi juga telah dikenal secara nasional bahkan internasional. Hingga kini, karya Elly Kasim terus dinyanyikan ulang oleh generasi muda, membuktikan kekuatan musik tradisi yang tak lekang oleh waktu. Nama lain yang tak kalah legendaris adalah Tiar Ramon, penyanyi Minang yang sukses mempopulerkan lagu daerah di era 1960-1970-an.

Suaranya yang khas dan syair lagu yang sarat nilai kampung halaman menjadikan karyanya tetap relevan, terutama bagi perantau Minang yang merindukan tanah kelahiran. Di dunia perfilman dan teater, Djamaluddin Malik, tokoh perfilman nasional berdarah Minang, juga meninggalkan warisan besar. Ia menjadi pelopor industri film Indonesia dan membuka jalan bagi lahirnya sineas-sineas besar setelahnya.

Kontribusinya menempatkan orang Minang sebagai bagian penting dalam sejarah perfilman nasional. Tak bisa dilupakan pula Asben, pencipta lagu-lagu Minang yang hingga kini masih menjadi rujukan utama musik tradisi. Karya-karyanya dianggap sebagai fondasi lagu Minang modern yang tetap menjaga ruh adat dan nilai budaya.

Pengamat budaya Minangkabau menilai, keabadian karya para artis tempo dulu terletak pada kekuatan pesan dan kedekatannya dengan nilai hidup masyarakat. "Mereka tidak sekadar berkarya, tapi merekam jiwa orang Minang-tentang rindu, rantau, adat, dan harga diri," ujarnya.

Di tengah gempuran musik dan hiburan modern, karya para artis Minang tempo dulu justru menemukan ruang baru lewat digitalisasi dan media sosial. Lagu-lagu lama kembali viral, dinyanyikan ulang, bahkan dijadikan materi edukasi budaya di sekolah-sekolah. Warisan seni ini menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak pernah mati selama masih dirawat dan dihargai.

Artis Minang tempo dulu telah menunaikan peran sejarahnya-meninggalkan karya yang bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk terus dihidupkan.