Setiap akhir pekan tertentu, Kota Padang berubah wajah. Jalan yang biasanya dipenuhi suara knalpot dan klakson mendadak jadi ruang manusia: orang berjalan santai, anak-anak berlarian, sepeda melintas...
Setiap akhir pekan tertentu, Kota Padang berubah wajah. Jalan yang biasanya dipenuhi suara knalpot dan klakson mendadak jadi ruang manusia: orang berjalan santai, anak-anak berlarian, sepeda melintas tanpa rasa waswas. Inilah Car Free Day (CFD) Kota Padang, sebuah jeda kolektif dari hiruk-pikuk kendaraan bermotor.
CFD bukan sekadar acara menutup jalan. Ia adalah eksperimen sosial yang sederhana tapi berdampak: bagaimana jika kota memberi ruang lebih besar kepada warganya, bukan pada mesin? Lebih dari Sekadar Jalan Tanpa Mobil Pada praktiknya, Car Free Day di Padang biasanya dipusatkan di ruas jalan strategis-seperti kawasan Jalan Sudirman hingga area pusat kota-dan berlangsung pada pagi hari.
Waktu yang pas: udara masih bersih, matahari belum terlalu garang, dan tubuh manusia sedang butuh bergerak. Di sini, aktivitas tumbuh secara organik. Ada yang jogging ringan, senam massal, bersepeda, sekadar berjalan sambil ngopi, sampai komunitas seni dan UMKM yang ikut meramaikan suasana.
Kota, untuk sesaat, terasa lebih ramah. Dampak Lingkungan yang Nyata Secara ilmiah, menghentikan kendaraan bermotor walau hanya beberapa jam tetap memberi efek. Emisi gas buang menurun, kualitas udara membaik, dan kebisingan berkurang.
CFD menjadi pengingat bahwa polusi bukan takdir-ia adalah hasil pilihan. Memang, satu pagi tanpa mobil tidak langsung menyelamatkan bumi. Tapi ia menyelamatkan kesadaran.
Dan kesadaran adalah langkah pertama sebelum perubahan besar. Ruang Sosial yang Hilang, Kini Kembali Di banyak kota modern, ruang publik sering tergerus oleh fungsi ekonomi dan lalu lintas. CFD menghadirkan kembali fungsi lama kota: tempat bertemu, berinteraksi, dan merasa menjadi bagian dari komunitas.
Di Padang, CFD mempertemukan semua lapisan: tua-muda, pekerja-keluarga, warga lokal hingga pendatang. Tanpa sekat kendaraan, jarak sosial ikut memendek. Kota yang sehat bukan hanya diukur dari bangunannya, tetapi dari seberapa nyaman warganya berjalan di atasnya.
Tantangan dan Harapan Tentu, Car Free Day bukan tanpa tantangan. Soal pengaturan lalu lintas, konsistensi jadwal, kebersihan, hingga pedagang yang perlu ditata agar tidak mengganggu fungsi utama ruang publik. Namun semua itu bukan alasan untuk berhenti-melainkan bahan evaluasi agar CFD semakin matang.
Harapannya sederhana: CFD tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tapi menjadi budaya. Budaya bergerak, budaya peduli lingkungan, dan budaya berbagi ruang.(***)

