Padang — Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, fenomena anak muda nongkrong di cafe di Kota Padang justru kian menjamur. Dari kawasan Purus, Pondok, Ulak Karang, hingga Belakang Olo, coffee...
Padang — Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, fenomena anak muda nongkrong di cafe di Kota Padang justru kian menjamur. Dari kawasan Purus, Pondok, Ulak Karang, hingga Belakang Olo, coffee shop tetap ramai dipadati mahasiswa, pelajar, dan pekerja muda, terutama sejak sore hingga larut malam. Pantauan di lapangan menunjukkan, mayoritas pengunjung datang berkelompok dan berlama-lama hanya dengan satu atau dua pesanan minuman.
WiFi gratis, colokan listrik, dan suasana nyaman menjadi daya tarik utama, bukan lagi menu mahal atau makanan berat. “Yang penting bisa duduk lama, ada WiFi. Minum kopi satu gelas cukup,” kata A (21), mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Padang, Selasa (25/12). Data Biaya Hidup dan Pola Konsumsi Berdasarkan kisaran biaya hidup mahasiswa di Padang, rata-rata uang saku bulanan berada pada rentang Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta.
Sementara harga minuman di cafe berkisar Rp15 ribu–Rp30 ribu per gelas. Artinya, satu kali nongkrong bisa menyedot hingga 3–5 persen uang bulanan, jika dilakukan berulang. Meski demikian, kebiasaan ini tetap dijalani dengan berbagai strategi hemat.
Mulai dari berbagi camilan, memilih menu termurah, hingga memanfaatkan promo jam tertentu. Tak jarang, satu meja diisi empat orang dengan total belanja di bawah Rp50 ribu. Cafe Berubah Fungsi Cafe di Padang kini tak lagi sekadar tempat minum kopi.
Ia menjelma menjadi ruang belajar alternatif, ruang diskusi, bahkan kantor dadakan. Fenomena ini terlihat jelas di cafe-cafe yang berdekatan dengan kampus dan pusat keramaian. Pengamat sosial menilai, perubahan fungsi cafe ini mencerminkan kebutuhan ruang publik yang nyaman bagi anak muda, yang belum sepenuhnya difasilitasi oleh ruang terbuka kota. “Cafe menjadi ruang sosial modern.
Masalahnya muncul ketika gaya hidup ini dipaksakan, padahal kemampuan ekonomi terbatas,” ujar seorang sosiolog di Padang. Dilema Pengelola Cafe Bagi pelaku usaha, ramainya pengunjung tidak selalu sebanding dengan omzet. Banyak cafe mengeluhkan pengunjung yang duduk berjam-jam namun minim transaksi.
Kondisi ini membuat sebagian pengelola mulai menerapkan aturan minimum order atau pembatasan waktu di jam sibuk. Antara Gengsi dan Realitas Media sosial turut memperkuat tren nongkrong ini. Unggahan foto di cafe dianggap sebagai simbol pergaulan dan gaya hidup urban.
Akibatnya, muncul tekanan sosial untuk tetap “hadir” di ruang nongkrong, meski kondisi keuangan terbatas (bud)

