Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

Busana Dunia internasional dan karya Indonesia Bernilai Fantastis, Jadi Mesin Ekonomi Kreatif

Busana Dunia internasional dan karya Indonesia Bernilai Fantastis, Jadi Mesin Ekonomi Kreatif
CaranoNews

Paris — Industri mode global kembali menegaskan posisinya sebagai kekuatan budaya sekaligus penggerak ekonomi bernilai tinggi. Sepanjang 2024–2025, busana terbaik dunia yang tampil di berbagai pekan...

Paris — Industri mode global kembali menegaskan posisinya sebagai kekuatan budaya sekaligus penggerak ekonomi bernilai tinggi. Sepanjang 2024–2025, busana terbaik dunia yang tampil di berbagai pekan mode internasional tidak hanya memikat secara estetika, tetapi juga mencerminkan nilai ekonomi fantastis yang berdampak luas hingga ke Indonesia.

Di Paris Fashion Week, rumah mode ternama seperti Chanel, Dior, dan Louis Vuitton memamerkan koleksi haute couture dengan harga sangat eksklusif. Gaun couture dibanderol mulai USD 80.000 hingga USD 500.000 atau setara Rp1,2 miliar–Rp7,8 miliar per potong, sementara lini ready-to-wear premium berada di kisaran USD 2.000–15.000. Kemewahan serupa terlihat di Milan Fashion Week. Brand Italia seperti Gucci dan Versace mempertahankan karakter glamor dengan setelan dan gaun ikonik bernilai USD 20.000–150.000. Pada ajang karpet merah internasional, busana custom-made yang dikenakan selebritas bahkan kerap ditaksir di atas USD 1 juta, meski tidak dipasarkan secara komersial.

Di tengah dominasi rumah mode Eropa dan Amerika, busana Indonesia menunjukkan peningkatan posisi di pasar global. Karya desainer Tanah Air seperti Anne Avantie, Didit Hediprasetyo, dan Tex Saverio dikenal memiliki nilai jual tinggi. Gaun couture Indonesia umumnya dibanderol Rp150 juta hingga di atas Rp1 miliar, sementara busana berbahan batik, tenun, dan songket modern berada pada kisaran Rp5 juta–Rp75 juta, tergantung eksklusivitas dan detail pengerjaan.

Transformasi kain tradisional Nusantara ke desain modern menempatkan fashion Indonesia tidak lagi sebagai produk etnik semata, melainkan karya seni berkelas dunia. Pendekatan ini turut memperkuat daya saing Indonesia di industri mode global. Dari sisi ekonomi, industri fashion menjadi salah satu sektor dengan dampak berlapis. Pekan mode dunia mendorong perputaran ekonomi di sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, hingga pemasaran. Di Indonesia, setiap karya couture melibatkan rantai panjang tenaga kerja—mulai dari pengrajin kain, penenun, pembordir, hingga UMKM tekstil—serta memperkuat nation branding di pasar internasional.

Catatan redaksi: Di balik harga busana yang mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah, terdapat nilai ekonomi, lapangan kerja, dan identitas budaya yang menggerakkan industri kreatif. Busana terbaik dunia dan Indonesia kini bukan sekadar simbol kemewahan, melainkan instrumen strategis penggerak ekonomi berkelanjutan. (Rajo)