Padang - Bus Trans Padang kini dimanfaatkan masyarakat sebagai transportasi murah keluarga menuju kawasan wisata Bungus Teluk Kabung. Fenomena ini sekaligus menjadi cermin bahwa akses wisata murah...
Padang - Bus Trans Padang kini dimanfaatkan masyarakat sebagai transportasi murah keluarga menuju kawasan wisata Bungus Teluk Kabung. Fenomena ini sekaligus menjadi cermin bahwa akses wisata murah masih sangat dibutuhkan, terutama bagi warga berpenghasilan menengah ke bawah. Dengan tarif yang terjangkau, Trans Padang menjadi pilihan rasional dibandingkan kendaraan pribadi.
Namun di balik antusiasme masyarakat, muncul pertanyaan besar: apakah Pemko Padang benar-benar serius menjadikan transportasi publik sebagai tulang punggung pariwisata kota? "Kalau hari biasa masih nyaman, tapi saat akhir pekan bus penuh, menunggu lama, kadang tidak kebagian," keluh Andi (42), warga Kuranji yang membawa keluarganya berwisata ke Bungus, Minggu (…).
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tingginya minat masyarakat belum diimbangi kesiapan armada dan manajemen layanan. Pada jam-jam padat dan hari libur, penumpang harus berdesakan, bahkan sebagian terpaksa kembali menggunakan kendaraan pribadi karena lamanya waktu tunggu. Padahal, Bungus merupakan salah satu destinasi wisata strategis Kota Padang.
Ironisnya, akses murah yang sudah terbukti diminati masyarakat ini belum dioptimalkan secara maksimal oleh pemerintah daerah. Transportasi publik dan kebijakan pariwisata masih berjalan sendiri-sendiri, tanpa perencanaan terpadu. Pengamat kebijakan publik menilai, jika Pemko Padang serius ingin mendorong wisata inklusif, maka penambahan armada, perpanjangan jam operasional, serta integrasi halte dengan titik wisata bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. "Jangan sampai Trans Padang hanya dijadikan etalase proyek.
Masyarakat sudah memberi sinyal kuat ingin beralih ke transportasi publik, tapi pemerintah justru lamban merespons," ujarnya. Lebih jauh, minimnya fasilitas pendukung di sekitar halte menuju lokasi wisata menunjukkan ketimpangan perhatian. Warga diminta naik angkutan umum, tetapi dipaksa berjalan jauh tanpa jalur pedestrian layak menuju pantai dan pusat kuliner.
Pemanfaatan Trans Padang menuju Bungus seharusnya menjadi momentum evaluasi serius. Jika transportasi publik dikelola setengah hati, wisata murah hanya akan menjadi jargon, bukan solusi nyata bagi pemerataan akses rekreasi masyarakat.

