PADANG — Kota Padang merupakan pintu masuk utama wisata Sumatera Barat melalui Bandara Internasional Minangkabau. Namun di balik status strategis tersebut, Padang justru belum mampu memosisikan diri...
PADANG — Kota Padang merupakan pintu masuk utama wisata Sumatera Barat melalui Bandara Internasional Minangkabau. Namun di balik status strategis tersebut, Padang justru belum mampu memosisikan diri sebagai destinasi wisata utama. Fakta di lapangan menunjukkan, sebagian besar wisatawan mancanegara hanya menginap satu hingga dua malam sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah lain.
Kondisi ini menegaskan bahwa Padang lebih dikenal sebagai kota transit dibanding kota tujuan wisata. Setelah menikmati kuliner dan mengunjungi kawasan Pantai Padang, wisatawan asing nyaris tidak memiliki pilihan aktivitas lanjutan yang terstruktur. Tidak tersedia paket wisata kota yang mampu mengisi waktu wisatawan selama beberapa hari.
Akibatnya, lama tinggal wisatawan mancanegara di Padang menjadi sangat pendek. Pariwisata modern berbasis pengalaman belum terbangun dengan baik. Padang belum memiliki city tour sejarah yang konsisten, walking tour budaya Minangkabau yang terjadwal, maupun agenda seni harian yang dapat dinikmati wisatawan.
Kota ini masih menjual pemandangan tanpa cerita dan tanpa pengalaman yang berlapis. Masalah lain muncul ketika malam tiba. Aktivitas wisata di Padang cenderung berhenti lebih cepat.
Minimnya hiburan malam yang tertata, tidak adanya event seni malam hari, serta kawasan pedestrian yang kurang hidup membuat wisatawan kehilangan alasan untuk tetap berada di kota. Denyut wisata yang mati di malam hari ikut mempersingkat masa tinggal wisatawan. Dari sisi promosi, Padang juga dinilai gagal membangun branding kota yang jelas.
Identitas wisata Padang masih kabur apakah sebagai kota pantai, kota kuliner, kota sejarah, atau kota budaya. Ketidakjelasan ini membuat Padang sulit dipasarkan sebagai destinasi wisata multi-hari di mata turis mancanegara. Persoalan kenyamanan turut memperparah keadaan.
Kualitas ruang publik, jalur pedestrian, transportasi wisata, ketersediaan informasi berbahasa asing, serta kebersihan kawasan wisata masih menjadi catatan. Faktor-faktor tersebut sangat menentukan keputusan wisatawan asing untuk memperpanjang masa tinggal, namun belum sepenuhnya terpenuhi di Padang. Minimnya event berskala nasional maupun internasional juga membuat kalender wisata kota nyaris kosong.
Tanpa festival rutin, pertunjukan budaya terjadwal, atau agenda olahraga internasional, tidak ada momentum yang mampu menahan wisatawan lebih lama di kota ini. Pengamat menilai pendeknya lama tinggal turis mancanegara di Padang bukan disebabkan oleh kurangnya potensi alam, melainkan lemahnya visi dan keseriusan pengelolaan pariwisata kota. Selama Padang hanya nyaman sebagai kota gerbang dan tidak berani bertransformasi menjadi kota tujuan, kebocoran ekonomi pariwisata akan terus terjadi.
Padang dinilai membutuhkan langkah berani dan kebijakan tegas untuk keluar dari status kota transit. Tanpa penataan menyeluruh, konsep wisata yang jelas, dan agenda yang konsisten, Padang akan terus menjadi kota yang didatangi sebentar—dan ditinggalkan tanpa kesan. (Bud)

