Padang — Budaya Minangkabau menjadi magnet utama wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat. Dari rumah gadang yang ikonik, tradisi adat yang masih hidup, hingga kuliner legendaris seperti rendang,...
Padang — Budaya Minangkabau menjadi magnet utama wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat. Dari rumah gadang yang ikonik, tradisi adat yang masih hidup, hingga kuliner legendaris seperti rendang, wisatawan menilai Sumbar memiliki identitas budaya yang kuat dan autentik. Namun di balik pujian tersebut, muncul catatan kritis: pengalaman wisata budaya dinilai belum dikelola secara maksimal.
Hasil penelusuran di lapangan dan rangkuman pengalaman wisatawan menunjukkan, banyak turis datang ke Sumatera Barat karena ingin merasakan budaya yang “hidup”, bukan sekadar tontonan. Mereka menemukan adat Minangkabau dijalankan dalam keseharian masyarakat, mulai dari musyawarah adat hingga nilai religius yang kuat di ruang publik. Hal ini dinilai sebagai keunggulan yang jarang ditemui di destinasi lain. “Budayanya terasa nyata, bukan dibuat-buat untuk turis,” ujar seorang wisatawan domestik asal Jawa yang berkunjung ke Padang dan Bukittinggi.
Namun justru karena budaya dianggap sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari, pengemasan wisata budaya dinilai kurang tertata. Wisatawan kerap menemukan budaya secara tidak sengaja, tanpa panduan, tanpa narasi, dan tanpa jadwal yang jelas. Minimnya pemandu budaya serta informasi resmi membuat banyak turis hanya melihat, tanpa benar-benar memahami makna adat dan tradisi yang mereka saksikan.
Di sektor kuliner, pujian mengalir deras. Rendang, sate Padang, dan dendeng menjadi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. Kuliner Minangkabau bahkan sering menjadi alasan utama wisatawan kembali berkunjung.
Namun wisata kuliner di Sumbar masih bersifat transaksional—datang, makan, lalu pergi. Cerita budaya di balik makanan jarang disampaikan secara sistematis. “Rasanya luar biasa, tapi saya tidak tahu cerita dan filosofinya,” kata seorang wisatawan mancanegara yang mencicipi rendang di Padang.
Keramahan masyarakat lokal juga mendapat penilaian positif. Wisatawan merasa diterima dan dihormati. Namun sebagian turis, terutama dari luar daerah dan luar negeri, mengaku bingung dengan norma adat dan nilai religius karena minimnya informasi awal.
Hampir tidak ditemukan papan panduan etika wisata budaya yang mudah diakses. Pengamat pariwisata menilai persoalan ini bersifat struktural. Budaya di Sumatera Barat belum diposisikan sebagai produk wisata utama, melainkan pelengkap dari wisata alam.
Padahal, kekuatan budaya Minangkabau dinilai mampu menjadi daya tarik kelas dunia jika dikemas secara terencana, terjadwal, dan dipandu dengan baik. “Sumbar menang dari sisi keaslian budaya, tapi kalah dalam pengelolaan pengalaman wisata,” ujar seorang pemerhati pariwisata budaya.
Hingga kini, promosi wisata masih lebih menonjolkan keindahan alam dan event seremonial. Sementara investasi pada sumber daya manusia pemandu budaya, pusat informasi, dan kalender budaya tetap masih terbatas. Akibatnya, potensi besar budaya Minangkabau belum sepenuhnya menjadi nilai ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat lokal.
Secara keseluruhan, penilaian wisatawan terhadap budaya Sumatera Barat tetap sangat positif. Budaya dinilai kuat, unik, dan berbeda. Namun wisatawan juga berharap adanya pembenahan pengelolaan agar pengalaman budaya tidak sekadar dilihat, tetapi dipahami dan dikenang.
Bagi Sumatera Barat, tantangannya kini jelas: menjaga keaslian budaya sekaligus mengelolanya secara profesional. Jika itu mampu dilakukan, budaya Minangkabau tak hanya akan dipuji, tetapi benar-benar menjadi kekuatan utama pariwisata yang berkelanjutan dan membanggakan.(Bud)

