Padang, Sumatera Barat — Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025 di sejumlah wilayah Sumatera Barat berlangsung jauh dari ekspektasi. Terputusnya akses jalan akibat banjir dan longsor membuat...
Padang, Sumatera Barat — Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025 di sejumlah wilayah Sumatera Barat berlangsung jauh dari ekspektasi. Terputusnya akses jalan akibat banjir dan longsor membuat arus wisatawan merosot tajam, memukul sektor pariwisata dan berdampak langsung pada pengusaha hotel serta penginapan.
Sejumlah ruas penghubung antar-kabupaten dan jalur menuju kawasan wisata dilaporkan tidak dapat dilalui. Longsor, badan jalan amblas, hingga rusaknya jembatan darurat memaksa kendaraan berhenti total atau memutar dengan jarak tempuh lebih jauh. Kondisi ini membuat banyak wisatawan memilih membatalkan perjalanan.
Akibatnya, tingkat hunian hotel dan penginapan anjlok drastis. Pengusaha mengaku terjadi pembatalan reservasi massal hanya beberapa hari menjelang Natal setelah informasi kerusakan jalan menyebar. Nataru yang biasanya menjadi puncak pendapatan justru berubah menjadi masa sepi.
Penurunan okupansi dilaporkan mencapai 50 hingga 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Biasanya kamar penuh saat Nataru. Sekarang banyak yang batal karena takut terjebak di jalan,” ujar seorang pengelola hotel di kawasan pesisir Sumatera Barat.
Kerugian tidak hanya datang dari kamar kosong. Biaya operasional seperti gaji karyawan, listrik, air, dan perawatan tetap berjalan. Sejumlah penginapan kecil bahkan terpaksa merumahkan pekerja harian karena minim tamu. Dampak lanjutan juga dirasakan masyarakat sekitar, mulai dari tersendatnya distribusi logistik hingga meningkatnya ongkos angkut barang.
Pemerintah daerah menyatakan telah menurunkan alat berat dan tim teknis untuk penanganan darurat. Namun, cuaca yang masih didominasi hujan membuat proses perbaikan berjalan lambat. Masyarakat dan wisatawan diimbau menunda perjalanan ke daerah terdampak serta terus memantau informasi resmi kondisi jalan.
Situasi ini memunculkan desakan kuat agar pemerintah mengambil langkah strategis jangka panjang. Ketergantungan pada satu jalur utama dinilai sebagai akar persoalan. Ketika satu ruas terputus, aktivitas ekonomi dan pariwisata langsung lumpuh. Karena itu, pembentukan jalan alternatif baru dinilai mendesak sebagai sistem pengaman mobilitas dan ekonomi daerah.
Selain jalan alternatif, percepatan pembangunan jalan tol di Sumatera Barat juga kembali mengemuka. Tol dipandang bukan sekadar memangkas waktu tempuh, tetapi menjadi tulang punggung distribusi logistik, membuka akses kawasan wisata baru, serta meningkatkan kepercayaan investor dan wisatawan.
Pelaku usaha pariwisata menilai, tanpa infrastruktur jalan yang andal dan berlapis, Sumatera Barat akan terus kehilangan momentum setiap musim hujan dan libur panjang. Wisatawan cenderung memilih daerah dengan akses yang aman dan memiliki kepastian perjalanan. (rajo)

