Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

Lumpur Pascabanjir Belum Tuntas, Warga Tabiang Banda Gadang Masih Membutuhkan Bantuan

Lumpur Pascabanjir Belum Tuntas, Warga Tabiang Banda Gadang Masih Membutuhkan Bantuan
CaranoNews
Ilustrasi: Kondisi pascabanjir dengan tumpukan lumpur yang masih mengendap di kawasan permukiman

Warga korban banjir di Kelurahan Tabiang Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, hingga kini masih menjalani kehidupan dalam kondisi memprihatinkan. Meski air banjir telah lama surut, dampak bencana masih terasa kuat melalui tumpukan lumpur tebal.

Padang — Warga korban banjir di Kelurahan Tabiang Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, hingga kini masih menjalani kehidupan dalam kondisi memprihatinkan. Meski air banjir telah lama surut, dampak bencana masih terasa kuat melalui tumpukan lumpur tebal yang mengendap di rumah-rumah warga, jalan lingkungan, serta sejumlah fasilitas umum.

Hingga saat ini, proses pembersihan pascabanjir masih terus berlangsung. Puluhan truk dikerahkan setiap hari untuk mengangkut lumpur dari kawasan permukiman warga. Aktivitas pengangkutan dilakukan sejak pagi hingga sore hari, namun volume lumpur yang sangat besar membuat proses pemulihan berjalan lambat dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera selesai.

Pantauan di lapangan memperlihatkan truk-truk pengangkut lumpur keluar masuk kawasan terdampak hampir tanpa jeda. Lumpur masih melekat di lantai rumah, tembok, halaman, hingga badan jalan. Sebagian warga harus membersihkan rumah mereka secara berulang karena lumpur yang mengering sulit diangkat dengan peralatan sederhana.

"Airnya memang sudah lama surut, tapi lumpurnya masih di mana-mana. Setiap hari truk datang mengangkut, tapi belum juga bersih," ujar salah seorang warga terdampak.

Banjir tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak pada aktivitas dan kondisi psikologis warga. Banyak perabot rumah tangga rusak dan tidak bisa digunakan kembali. Aktivitas sehari-hari seperti memasak, beristirahat, hingga bekerja menjadi terganggu karena rumah belum sepenuhnya layak ditempati.

Salah seorang warga Kelurahan Tabiang Banda Gadang, Mardefni Zainir, S.H., M.H., menyampaikan bahwa hingga kini warga masih sangat membutuhkan bantuan lanjutan. Menurutnya, meskipun pengangkutan lumpur dilakukan setiap hari, jumlah lumpur yang tersisa di lingkungan permukiman masih sangat besar.

"Sudah berminggu-minggu lumpur ini diangkut setiap hari. Truk terus datang, tapi lumpur masih tebal di dalam rumah warga, di halaman, sampai ke jalan lingkungan. Ini jelas bukan pekerjaan satu atau dua hari," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dampak banjir tidak berhenti pada persoalan kebersihan lingkungan. Banyak warga belum dapat kembali menjalani kehidupan secara normal karena kondisi rumah yang masih kotor dan lembap, serta lingkungan sekitar yang belum pulih sepenuhnya.

"Warga masih perlu bantuan. Tidak hanya pengangkutan lumpur, tetapi juga pemulihan lingkungan secara menyeluruh agar masyarakat bisa kembali hidup normal," katanya.

Di sejumlah titik, kondisi jalan lingkungan masih licin dan berlumpur, sehingga menyulitkan akses kendaraan dan membahayakan pejalan kaki. Anak-anak harus ekstra berhati-hati saat beraktivitas, sementara warga lanjut usia memilih membatasi kegiatan di luar rumah karena khawatir terpeleset.

Warga berharap penanganan pascabanjir tidak berhenti pada tahap darurat semata. Selain pengangkutan lumpur, mereka menginginkan pembersihan drainase, perbaikan jalan lingkungan, serta perhatian berkelanjutan agar kawasan permukiman benar-benar pulih.

Bagi warga Tabiang Banda Gadang, banjir belum sepenuhnya berakhir. Selama lumpur masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan proses pemulihan belum tuntas, luka akibat bencana itu masih terasa nyata. (BUD)