Jakarta — Produk industri pertahanan dalam negeri kembali menarik perhatian internasional. Sejumlah kendaraan tempur buatan PT Pindad dilaporkan diminati oleh beberapa negara, khususnya dari kawasan...
Jakarta — Produk industri pertahanan dalam negeri kembali menarik perhatian internasional. Sejumlah kendaraan tempur buatan PT Pindad dilaporkan diminati oleh beberapa negara, khususnya dari kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah, seiring meningkatnya kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang tangguh namun efisien secara biaya.
Salah satu produk yang paling menonjol adalah Anoa 6x6, panser angkut personel yang telah menjadi tulang punggung TNI Angkatan Darat. Kendaraan ini juga tercatat digunakan oleh pasukan perdamaian Indonesia dalam berbagai misi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keterlibatan Anoa dalam misi internasional tersebut dinilai meningkatkan kepercayaan negara lain terhadap kualitas produk Pindad.
Selain Anoa, perhatian dunia juga tertuju pada Harimau Medium Tank, tank kelas menengah hasil kerja sama Pindad dengan perusahaan pertahanan Turki, FNSS. Tank Harimau dirancang untuk kebutuhan medan tropis dengan keseimbangan antara daya tembak, perlindungan, dan mobilitas. Beberapa negara di Asia disebut telah menyampaikan ketertarikan awal terhadap platform tank ini.
Di segmen kendaraan taktis ringan, Pindad juga mengembangkan Komodo 4x4 dan Maung 4x4. Kedua kendaraan ini dinilai fleksibel untuk berbagai kebutuhan, mulai dari patroli militer, pengamanan wilayah, hingga operasi non-tempur. Maung bahkan dikembangkan dalam beberapa varian, termasuk versi non-tempur, sehingga membuka peluang ekspor yang lebih luas.
Pengamat pertahanan menilai, ketertarikan negara lain terhadap kendaraan tempur Pindad menunjukkan meningkatnya daya saing industri pertahanan nasional di pasar global. Produk Pindad dinilai berada di segmen yang tepat, yakni menawarkan spesifikasi militer yang memadai dengan harga dan biaya perawatan yang relatif lebih terjangkau dibandingkan produk sejenis dari negara Barat.
Meski demikian, realisasi ekspor alutsista tetap bergantung pada kebijakan pemerintah, izin ekspor pertahanan, serta dinamika geopolitik internasional. Dengan portofolio kendaraan tempur yang semakin lengkap, Pindad dinilai tidak hanya memperkuat kemandirian alutsista nasional, tetapi juga berpotensi menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain penting di pasar industri pertahanan dunia.(Bud)

