Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

Hasil Survei Alasan Perusahaan Lepas Karyawan Gen Z

Hasil Survei Alasan Perusahaan Lepas Karyawan Gen Z
CaranoNews

Padang — Fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tidak diperpanjangnya kontrak karyawan dari kalangan Generasi Z (Gen Z) semakin banyak terjadi di berbagai sektor usaha. Media, startup,...

Padang — Fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tidak diperpanjangnya kontrak karyawan dari kalangan Generasi Z (Gen Z) semakin banyak terjadi di berbagai sektor usaha. Media, startup, perusahaan jasa, hingga ritel mencatat tingkat pergantian karyawan usia muda lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Sejumlah survei nasional dan global mengungkap bahwa kondisi tersebut dipicu oleh ketidaksesuaian ekspektasi kerja, ketahanan mental, serta budaya organisasi yang belum selaras antara perusahaan dan pekerja Gen Z.

Berdasarkan Deloitte Global Gen Z Survey 2024, hampir 50 persen pekerja Gen Z mengaku mengalami stres dan kecemasan terkait pekerjaan. Faktor utama pemicunya adalah tekanan target, ketidakjelasan peran, serta minimnya pembinaan dari atasan. Sementara itu, Survei LinkedIn Workforce Confidence 2023 mencatat lebih dari 60 persen Gen Z mempertimbangkan untuk pindah kerja dalam waktu kurang dari satu tahun.

Angka ini menjadi yang tertinggi dibanding generasi milenial maupun generasi X. Di tingkat nasional, data JobStreet Indonesia menunjukkan kelompok usia 20–27 tahun memiliki tingkat turnover tertinggi. Alasan dominan yang diungkap responden adalah ketidakcocokan budaya kerja, beban kerja yang tidak sesuai ekspektasi, serta kurangnya kejelasan jenjang karier.

Praktisi sumber daya manusia di Sumatera Barat, Rizal Arman, menilai fenomena tersebut mencerminkan benturan antara harapan generasi muda dan realitas dunia kerja. “Banyak Gen Z masuk dunia kerja dengan gambaran ideal.

Ketika berhadapan dengan tekanan target, kritik langsung, dan ritme kerja yang ketat, sebagian tidak siap,” ujar Rizal kepada CaranoNews. Selain ekspektasi, perusahaan juga menyoroti persoalan disiplin dan komitmen kerja. Survei JobStreet mencatat lebih dari 55 persen manajer HR menganggap kecenderungan job hopping Gen Z sebagai tantangan utama dalam pengelolaan karyawan. “Perusahaan mengeluarkan biaya besar untuk rekrutmen dan pelatihan.

Jika karyawan baru bertahan sebentar lalu pergi, tentu menjadi pertimbangan serius,” kata seorang manajer perusahaan jasa di Padang yang enggan disebutkan namanya. Namun, pengamat ketenagakerjaan Nurhasan menilai persoalan ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh Gen Z. Menurutnya, banyak perusahaan juga belum siap beradaptasi dengan perubahan karakter tenaga kerja muda. “Masih banyak perusahaan yang menuntut hasil maksimal tanpa sistem mentoring yang jelas.

Ketika karyawan muda tidak tahan tekanan, mereka yang disalahkan,” ujarnya. Survei Deloitte juga mencatat bahwa lebih dari 40 persen Gen Z merasa tidak mendapatkan arahan dan dukungan yang memadai dari atasan di tempat kerja. Secara umum, para ahli menilai fenomena banyaknya perusahaan yang melepas karyawan Gen Z merupakan bagian dari proses transisi generasi di dunia kerja.

Penyesuaian dinilai diperlukan dari kedua belah pihak agar hubungan kerja dapat berjalan lebih stabil dan berkelanjutan. (Bud)