PADANG — Olahraga balap sepeda di Sumatera Barat berada pada kondisi memprihatinkan. Cabang olahraga yang pernah berjaya dan menyumbang prestasi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) itu kini...
PADANG — Olahraga balap sepeda di Sumatera Barat berada pada kondisi memprihatinkan. Cabang olahraga yang pernah berjaya dan menyumbang prestasi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) itu kini terancam mati perlahan akibat minimnya pembinaan, ketiadaan kejuaraan rutin, serta fasilitas utama yang terbengkalai.
Sejumlah penggiat olahraga dan mantan atlet menyebut balap sepeda Sumbar nyaris kehilangan denyut kehidupan. Agenda lomba tingkat daerah hampir tidak ada, klub-klub banyak yang vakum, dan atlet muda tidak memiliki jalur pembinaan yang jelas. “Dulu balap sepeda Sumbar diperhitungkan di PON. Sekarang latihan saja sulit, apalagi mencari ajang lomba,” ujar seorang mantan atlet balap sepeda Sumbar.
Pernah Berjaya di PON Pada masa kejayaannya, balap sepeda Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu cabang unggulan. Atlet-atlet Sumbar tampil kompetitif di nomor road race, time trial, dan beregu, serta menyumbangkan medali bagi kontingen Sumbar di PON. Medan alam Sumbar yang menantang menjadi keunggulan atlet dalam mengasah daya tahan dan teknik.
Namun, seiring waktu, atlet-atlet senior pensiun tanpa diikuti regenerasi yang memadai. Prestasi pun perlahan meredup. Velodrome Rimbo Data Sunyi Kondisi semakin ironis dengan keadaan Velodrome Rimbo Data di Kota Padang, yang seharusnya menjadi pusat latihan dan pembinaan balap sepeda lintasan.
Saat ini, velodrome tersebut jarang digunakan, minim aktivitas, dan terlihat kurang terawat. Beberapa bagian lintasan ditumbuhi rumput liar, sementara fasilitas pendukung tidak terpelihara optimal. Velodrome yang dahulu menjadi simbol pembinaan prestasi kini berubah menjadi arena sunyi tanpa agenda latihan rutin maupun kompetisi.
Regenerasi Terhenti dan Faktor Keselamatan Ketiadaan fasilitas aktif dan program pembinaan berkelanjutan membuat regenerasi atlet praktis terhenti. Klub-klub balap sepeda yang dulu aktif kini banyak yang mati suri. Biaya peralatan yang mahal serta minimnya dukungan pelatih dan anggaran membuat generasi muda enggan menekuni cabang olahraga ini.
Selain itu, faktor keselamatan juga menjadi kendala. Jalan raya yang padat, minim jalur khusus sepeda, serta rendahnya kesadaran pengguna jalan membuat latihan balap sepeda semakin berisiko. Desakan Penyelamatan Penggiat olahraga mendesak pemerintah daerah dan pemangku kepentingan segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan balap sepeda Sumbar, antara lain: Revitalisasi dan pengaktifan kembali Velodrome Rimbo Data, Menghidupkan kalender kejuaraan balap sepeda daerah, Pembinaan atlet usia dini berbasis klub dan sekolah, Penyediaan fasilitas latihan yang aman dan berkelanjutan.
Catatan Redaksi Balap sepeda Sumatera Barat bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari sejarah prestasi daerah. Membiarkannya mati berarti menghapus jejak kejayaan yang pernah mengharumkan nama Sumbar di tingkat nasional. Kini publik menunggu pembuktian: diselamatkan dan dibangkitkan kembali, atau dibiarkan mati perlahan oleh waktu dan ketidakpedulian. (Rajo)

