Padang — Cabang olahraga menembak di Sumatera Barat (Sumbar) menghadapi persoalan serius. Jumlah atlet aktif kian menyusut, sementara regenerasi nyaris stagnan. Faktor utama yang disorot adalah...
Padang — Cabang olahraga menembak di Sumatera Barat (Sumbar) menghadapi persoalan serius. Jumlah atlet aktif kian menyusut, sementara regenerasi nyaris stagnan. Faktor utama yang disorot adalah tingginya biaya pembinaan dan keterbatasan fasilitas, membuat olahraga ini sulit berkembang di daerah.
Pengurus cabang olahraga menembak mengakui, biaya menjadi hambatan terbesar bagi calon atlet. Mulai dari senjata, amunisi, perlengkapan keselamatan, hingga sewa lapangan tembak membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kondisi ini membuat olahraga menembak cenderung hanya bisa diakses kalangan tertentu. “Untuk satu atlet saja, biaya latihan bisa mencapai jutaan rupiah per bulan.
Itu belum termasuk perawatan senjata dan amunisi. Akibatnya, minat ada, tapi tidak berlanjut,” ungkap salah seorang pengurus cabor menembak Sumbar. Selain persoalan biaya, fasilitas lapangan tembak yang terbatas turut memperparah kondisi.
Hingga kini, jumlah lapangan tembak standar di Sumbar masih sangat minim dan belum sepenuhnya mendukung pembinaan berjenjang dari usia dini hingga prestasi. Kondisi ini berdampak langsung pada prestasi daerah. Dalam beberapa kejuaraan nasional, Sumbar kesulitan mengirimkan atlet lengkap untuk seluruh nomor lomba.
Bahkan, pada seleksi tertentu, jumlah atlet yang tersedia tidak memenuhi kuota ideal. Pengamat olahraga menilai, tanpa intervensi serius dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan olahraga, cabang menembak di Sumbar berpotensi semakin tertinggal. Padahal, secara historis, olahraga ini pernah menyumbang atlet potensial dan memiliki peluang prestasi jika dikelola dengan baik. “Olahraga menembak bukan hanya soal prestasi, tapi juga melatih konsentrasi dan disiplin tinggi.
Sayang jika dibiarkan mati karena persoalan klasik: biaya dan fasilitas,” kata pengamat olahraga. Di sisi lain, organisasi olahraga daerah seperti KONI Sumatera Barat didorong untuk mencari terobosan, termasuk kerja sama dengan instansi terkait, klub menembak, hingga pihak swasta, guna menekan biaya latihan dan membuka akses bagi atlet muda berbakat.
Tanpa kebijakan pembinaan yang jelas dan dukungan anggaran yang memadai, olahraga menembak di Sumbar dikhawatirkan hanya akan menjadi cabang pelengkap, kehilangan regenerasi, dan absen dari persaingan di tingkat nasional. (Rajo)

